RSS

Kebijakan Moneter Bank Indonesia Dalam Sistem Informasi Pola Pembiayaan/ Lending Model Usaha Kecil Pada Komoditas Cokelat (Kakao)

22 Des

KEBIJAKAN MONETER

  1. Pengertian Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter adalah proses mengatur persediaan uang sebuah negara untuk mencapai tujuan tertentu seperti menahan inflasi, mencapai pekerja penuh atau lebih sejahtera. Kebijakan moneter dapat melibatkan mengeset standar bunga pinjaman, “margin requirement“, kapitalisasi untuk bank atau bahkan bertindak sebagai peminjam usaha terakhir atau melalui persetujuan melalui negosiasi dengan pemerintah lain.

Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang.Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas.

Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:

  1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive Policy

Kebijakan moneter ekspansif adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang edar.

  1. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive Policy

Kebijakan moneter kontraktif adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang edar, disebut juga dengan kebijakan uang ketat.

  1. Instrumen Kebijakan Moneter

Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain :

  1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)

Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang.

  1. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)

Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah duit yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum terkadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang.

  1. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)

Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio.

  1. Himbauan Moral (Moral Persuasion)

Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian.

Kebijakan Moneter Bank Indonesia Dalam Sostem Informasi Pola Pembiayaan / Lending Model Usaha Kecil Pada Komoditas Kakao

Pembiayaan/ lending  model usaha kecil merupakan sistem informasi yang menyajikan hasil penelitian Bank Indonesia mengenai pola-pola pembiayaan usaha kecil yang berpotensi untuk dikembangkan. Melalui pola-pola pembiayaan ini diharapkan dapat direplikasikan oleh para pengusaha sebagai informasi awal bagi perbankan dalam pembiayaan suatu komoditas. Cakupan sistem informasi pola pembiayaan antara lain meliputi aspek pemasaran, aspek teknis produksi, aspek finansial, dan aspek dampak ekonomi.

Peranan sektor pertanian cukup strategis dalam pertumbuhan Produk Domestik Bruto Nasional. Hal ini terlihat bahwa selama 10 tahun terakhir ini, peranan sektor ini terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata 4% per tahun. Selain dituntut harus mampu menciptakan swasembada pangan, sektor ini juga harus mampu menyediakan lapangan dan kesempatan kerja (menahan inflasi dan mengurangi jumlah pengangguran), serta pengadaan bahan baku bagi industri hasil pertanian. Sektor ini juga dituntut untuk meningkatkan perolehan devisa negara dengan jalan meningkatkan volume dan nilai ekspor hasil pertanian.

Salah satu sub-sektor di sektor pertanian adalah sub-sektor perkebunan. Sub-sektor ini dalam menunjang perekonomian nasional menjadi makin penting, mengingat makin terbatasnya peranan minyak bumi yang selama ini merupakan sumber devisa utama bagi Indonesia.

Salah satu komoditas perkebunan yang sangat penting dalam menyumbang perolehan devisa negara adalah kakao. Pada tahun 1997, ekspor kakao dari Indonesia diperkirakan telah mencapai US$ 378 juta. Walaupun nilai tersebut masih merupakan angka estimasi, namun nilai tersebut lebih tinggi dari tahun sebelumnya yang mencapai US$ 377,5 juta.

Dalam pengembangan kakao, peranan perbankan belum begitu besar. Sebagai contoh, di Sulawesi Selatan dimana pada tahun 1997 sekitar 40% nilai ekspor kakao berasal dari propinsi ini, jumlah kredit yang disalurkan oleh perbankan untuk posisi bulan Maret 1998 adalah Rp4,152 juta dan nilai ini hanya 0,46% dari keseluruhan kredit di sektor pertanian atau 1,49% dari kredit yang disalurkan di sub-sektor perekebunan.

Dari kredit yang disalurkan tersebut, belum ada yang menerapkan pola kemitraan terpadu. Untuk itulah suatu model pengembangan kakao yang bisa ditunjang dengan kredit bank, dalam bentuk kemitraan yang melibatkan usaha perkebunan kakao rakyat perlu ditulis dan disebarluaskan untuk bisa dijadikan acuan bagi bank.

Dalam penulisan model kemitraan ini akan dibahas aspek kelayakan usaha, yang meliputi aspek pemasaran, teknis budidaya, finansial, sosial dan ekonomi serta pola kemitraan terpadu yang sesuai antara usaha besar (inti) dan petani plasma.

Tujuan dari penulisan Model Kelayakan Proyek Kemitraan Terpadu Produksi Kakao ini adalah untuk :

  1. Memberikan informasi kepada perbankan tentang model kemitraan terpadu yang sesuai dan layak dibiayai dengan kredit bank untuk komoditas kakao.
  2. Dipergunakan oleh para mitra usaha petani yang berminat dalam pengembangan kemitran dalam budidaya kakao.
  3. Mendorong pengembangan usaha produksi kakao sebagai komoditas penghasil devisa.

Peranan Bank Dalam Proyek Kemitraan Terpadu Produksi Kakao

Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal kerja pembangunan atau perbaikan kebun.

Di samping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehan pendapatan bersih petani yang paling besar.

Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian pokok pinjaman beserta bunganya.

Untuk ini, bank membuat perjanjian kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi.

Perusahaan inti akan memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.

  1. 1. PENYIAPAN PROYEK

Untuk melihat bahwa Proyek Kemitraan Terpadi ini dikembangkan dengan sebaiknya dan dalam proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan keberhasilan, minimal dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan. Kalau PKT ini akan mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma, perintisannya dimulai dari:

  1. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha. Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan untuk bekerja sama dengan perusahaan perkebunan/pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha.
  2. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses pemasarannya.
  3. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil.
  4. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling agent).
  5. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan, Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda)
  6. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini, harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa diberikan sertifikat dan bukan merupakan lahan yang masih belum jelas statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen Kehutanan dan Perkebunan.
    1. 2. MEKANISME PROYEK

Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip bank teknis. Jika proyek layak untuk dikembangkan, perlu dibuat suatu nota kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti, Plasma/Koperasi dan Bank). Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa koperasi atau plasma, kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian plasma tidak akan menerima uang tunai dari perbankan, tetapi yang diterima adalah sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau koperasi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Hasil tanaman plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU. Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih.

  1. 3. PERJANJIAN KERJASAMA

Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini, perlu dikukuhkan dalam suatu surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Dalam perjanjian kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu. Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai berikut :

1. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra (inti)

  1. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan hasil
  2. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun, pengadaan sarana produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan), penanaman serta pemeliharaan kebun/usaha
  3. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu yang tinggi
  4. Melakukan pembelian produksi petani plasma
  5. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit bank (KKPA) dan bunganya, serta bertindak sebagai avalis dalam rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma.

2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma

  1. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya
  2. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami;
  1. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca-panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan
  2. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit
  3. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi budidaya oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit
  4. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen dijual kepada Perusahaan Mitra
  5. Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya.
  1. 4. KEBUTUHAN BIAYA INVESTASI

Biaya investasi tanaman pada tahun ke-0 (TBM 0) digunakan untuk pembukaan lahan (land clearing), pembibitan, penanaman tanaman pelindung dan tanam kakao. Sedangkan untuk Tahun 1 dan ke-2 digunakan untuk perawatan tanaman, seperti penyulaman, pemupukan dan pencegahan hama dan penyakit.

Investasi non-tanaman digunakan untuk pembangunan prasarana, seperti jalan kebun. Apabila diperlukan dana untuk pembayaran jaminan kredit, jika kredit ini dijaminkan ke perusahaan penjamin kredit seperti Perum PKK, Askrindo atau PKPL, maka biaya investasi untuk non-tanaman perlu ditambah dengan itu.

Biaya investasi kebun digunakan untuk investasi tanaman dan non tanaman. Dengan menggunakan keadaan harga-harga dan biaya yang pada umunya terjadi dilapangan pada sekitar bulan Juni 1998, perincian biaya investasi untuk 2 ha kebun kakao dapat dilihat pada Tabel.

Tabel Kebutuhan Biaya Investasi Kebun Kakao

KEBUTUHAN BIAYA (Rp/ha) (per petani 2 ha)
A. INVESTASI TANAMAN

– Tahun 0(TBM 0)

– Tahun 1 (TBM 1)

– Tahun 2 (TBM 2)

Jumlah Investasi Tanaman

B. INVESTASI NON TANAMAN

– Prasarana

Jumlah Investasi Non Tanaman

4.463.843

1.522.500

1.183.250

7.169.593

987.000

987.000

8.927.686

3.045.000

2.366.500

14.339.186

1.974.000

1.974.00

Total Investasi Tanaman + Non Tanaman

Fee / Overhead

JUMLAH INVESTASI

Bunga Masa Konstruksi (IDC)

8.156.593

163.120

8.319.713

2.513.035

16.313.186

326.240

16.639.426

5.026.070

JUMLAH KESELURUHAN 10.832.746 21.665.492

Sumber: http://bi.go.id

Analisis Terhadap Keberhasilan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Dalam Sistem Informasi Pola Pembiayaan / Lending Model Usaha Kecil Pada Komoditas Kakao

Melalui Proyek Kemitraan Terpadu Produksi Kakao dapat diketahui bahwa para petani plasma akan mendapatkan nilai tambah dari proyek ini dan mampu mengembalikan kredit yang diberikan oleh bank dalam jangka waktu yang wajar.

Perhitungan ini didasarkan pada kelayakan usaha setiap petani yang akan mengembangkan (ekstensifikasi) kebun kakao seluas 2 ha. Dengan demikian Perusahaan mitra (inti) dipandang sebagai terlibat kegiatan sejak awal, mulai dari kegiatan pembukaan lahan sampai tanaman menghasilkan.

Dalam hal ini skim kredit yang digunakan adalah KKPA dengan bunga 16% per tahun dan pembayaran angsuran dilakukan pada waktu tanaman petani sudah menghasilkan, yaitu pada tahun ketiga. Selama tanaman belum menghasilkan petani diberikan grace periode dan bunga pinjamannya adalah 14% per tahun.

PROYEKSI LABA/RUGI

Proyeksi laba/rugi memberikan gambaran tentang kegiatan usaha perkebunan kakao rakyat dalam periode yang akan datang. Asumsi dasar yang digunakan untuk perhitungan laba/rugi ini adalah menyangkut kualitas biji kakao yang dijual petani. Kualitas biji kakao yang dijual petani adalah biji kering, dengan kadar air 7 – 8% dengan harga jual Rp. 15.00/kg. Berdasarkan asumsi tersebut, sejak tanaman mulai menghasilkan, yaitu pada tahun ketiga sampai akhir analisa, yaitu tahun ke -23, petani kakao mendapatkan keuntungan yang cukup memadai. Jika pada tahun pertama berbuah keuntungan tersebut hanya 6,7 juta/tahun, maka pada tahun berikutnya meningkat dua kali lipat, seiring dengan meningkatnya produktivitas tanaman.

Dengan mengatur seluruh dana pembiayaan dari Bank dan adanya grace period selama 2 tahun, maka selama masa proyek tidak terjadi defisit. Petani dapat mengembalikan pokok serta bunga pinjaman dalam waktu yang telah ditentukan, yaitu selama 5 tahun mulai dari tanaman menghasilkan pada tahun ke-3 sesudah tanam, dan mendapatkan keuntungan yang wajar.

Setelah melunasi angsuran utang pokok, pembayaran bunga pinjaman dan pembayaran pajak, petani diperhitungkan akan mulai menerima sisa pendapatan pertahun dengan 2 ha kebun kakao pada tahun ke-3 sesudah tanam sebanyak Rp. 4,1 juta, yang kemudian meningkat tiap tahun hingga mencapai Rp. 37,4 juta pada tahun ke-10 dan naik lagi menjadi Rp. 48 juta pertahun dari tahun ke-12 sampai tahun ke-23 menjadi Rp. 28,0 juta. Setelah ini, petani harus mengadakan investasi baru untuk peremajaan tanamannya. Secara keseluruhan sampai pada tahun ke-23 sesudah tanam, analisis finansial menunjukkan kriteria usaha seperti pada berikut ini.

Tabel Hasil Analisa Finansial Proyek

No. Kriteria Kelayakan Proyek Nilai
1.

2.

3.

4.

NPV (df=16%)

B/C

IRR

Payback Period

Rp. 75.408.163

3,01

48,76%

3,7 tahun

Dengan demikian melalui “Proyek Kemitraan Terpadu Produksi Kakao” akan sangat membantu petani dalam pengembangan usaha taninya, dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani yang lebih baik.

S

Basri, Faisal. 2002. PEREKONOMIAN INDONESIA “Tantangan dan Harapan bagi Kebangkitan Indonesia. Erlangga. Jakarta

Sukirno, Sadono. 1994. Teori Pengantar Makro Ekonomi. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta

umber :

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 22, 2009 in Agiculture

 

One response to “Kebijakan Moneter Bank Indonesia Dalam Sistem Informasi Pola Pembiayaan/ Lending Model Usaha Kecil Pada Komoditas Cokelat (Kakao)

  1. ayu lisnasari

    Mei 5, 2011 at 13:09

    maaf sebelumnya.. saya mau tanya tentang pengertian pembiayaan inti plasma yg diberikan oleh bank syariah.? trimakasih..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: